Oct 28

Saya punya 250 semaian Anthurium hokeri ’Sweeta’ umur tiga bulan. Bibit itu baru saja laku dibeli orang Rp 120.000 per satu pot, jadi totalnya Rp 30 juta,” kata Ketok (56), seorang petani, dengan wajah semringah.

Bagi lelaki yang tinggal di Desa Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, tersebut keuntungan sebesar itu sungguh tak terbayangkan. Beberapa tahun sebelumnya, tanaman itu masih dibiarkan tumbuh liar di pekarangan depan rumah. Setelah orang heboh soal anturium, dia mulai memerhatikan tanaman itu.

Baca Selengkapnya »

Oct 28

Masyarakat Indonesia punya selera yang unik menyangkut soal tanaman hias. Mula-mula, banyak orang menggandrungi tanaman yang memiliki bunga indah, lalu bergeser pada pepohonan pelindung untuk taman. Belakangan, masyarakat menyukai bunga dalam pot yang bisa dipelihara dalam rumah.

Adalah bunga nusa indah yang dikenal menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia tahun 1970-an. Saat itu, hampir tidak ada halaman rumah, kantor, hotel, dan toko di kota-kota yang tidak memajang tanaman yang kerap disebut cangkok emas atau daun putri itu. Bunganya yang merah cerah atau putih bersih dianggap melambangkan kesejahteraan pemiliknya.

Baca Selengkapnya »

Oct 28

Ilham Khoiri

Mengikuti perkembangan tanaman hias beberapa tahun belakangan seperti memasuki dunia dongeng. Tren berganti-ganti dan orang-orang berduit tak segan mengeluarkan uang miliaran rupiah demi memburu tanaman primadona. Masyarakat umum pun ikut-ikutan menginvestasikan uang yang pas-pasan demi mimpi meraup untung besar. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Masyarakat di Tanah Air sedang terjangkiti demam tanaman hias. Cobalah berkunjung ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak memasuki kawasan Jaten, yang berbatasan dengan Kota Solo, kita langsung menghirup aroma anturium, tanaman yang jadi tren tahun 2007 ini. Ratusan kebun tanaman hias memenuhi kiri-kanan jalan raya.

Baca Selengkapnya »

Oct 28

Ninuk Mardiana Pambudy

”Kami baru kehilangan dua anturium. Satu dicuri dari halaman belakang yang pagarnya tingginya tiga meter, satu lagi di teras yang lebih kecil. Yang satu ’Anthurium plowmanii’ atau Gelombang Cinta, satunya lagi ’Anthurium jemanii’ ’Kol’. Yang dicuri dari kantor juga dua pohon.”

Itulah pengalaman Susilo Hadi Arifin dan istrinya, Nurhayati, pengajar di Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Anturium kesayangan mereka itu dibeli pada tahun 2001 saat belum populer dan ketika dicuri panjang daunnya sudah sekitar 50 sentimeter. Bila dibandingkan dengan anturium yang kerap muncul di pameran, tanaman dengan ukuran tersebut dapat mencapai harga lebih Rp 20 juta.

Baca Selengkapnya »

Oct 18

Bisnis Anthurium Jemanii membuat Kakak Saya Sekarang Milyader. Saat ini, semakin banyak orang yang jatuh cinta pada anturium. Selain terpikat oleh keindahan daun-daunnya, mereka bersemangat memelihara tanaman mirip talas itu lantaran dibuai harapan memperoleh untung besar. Maklum, tanaman yang sedang naik daun ini memang sedang punya pasar bagus.


Baca Selengkapnya »