Saya punya 250 semaian Anthurium hokeri ’Sweeta’ umur tiga bulan. Bibit itu baru saja laku dibeli orang Rp 120.000 per satu pot, jadi totalnya Rp 30 juta,” kata Ketok (56), seorang petani, dengan wajah semringah.
Bagi lelaki yang tinggal di Desa Tanah Baru, Kecamatan Beji, Depok, tersebut keuntungan sebesar itu sungguh tak terbayangkan. Beberapa tahun sebelumnya, tanaman itu masih dibiarkan tumbuh liar di pekarangan depan rumah. Setelah orang heboh soal anturium, dia mulai memerhatikan tanaman itu.
“Kebetulan, awal tahun ini tanaman itu mengeluarkan tongkol. Setelah matang, biji-bijinya saya semai sendiri sampai tumbuh. Ternyata, itu rezeki nomplok,” katanya.
Kisah orang yang menangguk untung besar atau kaya mendadak lantaran anturium jadi buah bibir yang hangat di kalangan penggemar tanaman hias sekarang ini. Pasar yang menghargai tanaman itu dengan nilai tinggi mengubah nasib banyak orang. Sekitar 1.000 petani di Karanganyar, Jawa Tengah, misalnya, sudah menikmati rezeki itu, terutama sejak pertengahan tahun ini.
Jangan heran jika para petani di kaki Gunung Lawu itu sekarang bisa membeli mobil baru, motor, atau merenovasi rumah. “Cukup membeli bibit anturium dan tunggu satu-dua bulan, uangnya sudah berlipat ganda,” ujar Heri, petani asal Ngargoyoso, Karanganyar.
Pedagang atau pengusaha mengeruk keuntungan lebih besar dari petani. Dengan dukungan modal besar, mereka bisa membeli lebih banyak tanaman dan menjualnya dengan harga setinggi-tingginya secara cepat. “Khusus untuk anturium, tanaman ini bisa dibilang sebagai emas hijau atau ATM hidup. Pedagang yang pintar bisa untung sampai miliaran rupiah dalam waktu singkat,” kata Kurniawan Junaedhie (50), pemilik Toekang Keboen Nursery di Pusat Tanaman Hias Bumi Serpong Damai (BSD).
Tentu saja, keuntungan semacam itu tidak langgeng. Saat tren bergeser, nasib juga berubah. Pengalaman itu dialami banyak orang yang jual tanah atau rumah untuk diinvestasikan dalam bisnis palem botol atau palem raja tahun 1990-an. Begitu tren berubah pada tahun-tahun berikutnya, bisnis palem pun runtuh dan tanaman itu kehilangan nilainya.
“Tahun 1992, saya mengeluarkan uang Rp 30 juta untuk membeli 200 palem seharga Rp 150.000 per pohon. Rencananya mau dibeli orang, tapi ternyata tidak jadi. Saya rugi besar,” kata Sugiono Budhiprawira (46), kolektor tanaman hias asal Bogor.
Menurut Heri Syaifuddin (39), penggiat Koperasi Paguyuban Tanaman Hias Maju Bersama di Sawangan, Depok, posisi petanilah yang paling lemah dalam bisnis tanaman hias. Mereka hanya bisa memproduksi tanaman yang sedang tren dan sama sekali tak bisa ikut menciptakan tren. Mereka diuntungkan saat punya banyak stok tanaman yang sedang dibutuhkan. Tapi, begitu harganya jatuh, mereka langsung rugi.
“Petani bisa menikmati hasil dadakan, tetapi tak perlu ikut arus permainan pasar tanaman hias yang dipenuhi spekulasi harga. Lebih baik mereka berkonsentrasi memperkuat basis produksi, terutama untuk jenis tanaman yang sudah punya pasar mapan,” katanya. (iam/son)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/28/kehidupan/3946982.htm